Hanyut dalam Diam

Bismillah
Assalamualaikum Ukhti,

Puisi ini hadir disaat buah hatiku yang kedua terkena serangan asma berturut. Infus dan obat-obatan menjadi teman sejati yang tak bisa lepas. Sebagai ibu, tak sanggup melihat penderitaan yang dialami si kecil berjuang laksana memanjat tebing tinggi untuk meraih seteguk napas.

Hanya dengan diam, kutumpahkan segala isi hati
tanpa ada kata terucap dari lisan



Picture by Unsplash

Hanyut dalam Diam
Karya Hamidah Ummu Alwan


aku takut bertemu esok
bisakah di sini saja bertahan
dan tak mengikuti jalannya jarum jam
ingin rasanya kupegegan era detik dan menita gar tak bergerak
biarkan aku di sini jangan bawa aku ke arus waktu

retina lelah ini sudah tak sanggup menatap lemah buah hati
tak disangka serangan asma menghampiri
hanya karen dingin dan debu
batuk menyerang

ingin kudekap erat dirimu
sepanjang hari
agar kedua bayangan jahat itu
tak menghampiri lalu pergi

hari kedua ini dirimu
masih berjuang menghirup napas
tenggorokan berlubang
bak sumur kering kerontang

guncangan perut
 laksana ombak tsunami
menggetarkan ranjang
menghempas tubuh mungilmu

bulir hangat ini
sudah tak sanggup mengintipmu
dia bertahan dalam
di kedalaman hati perih tertahan

hanya kekuatan doa
pengharpan segera menyapa
namun aku tak sanggup
bertemu esok

serangan itu
membuatku takut
datang tibatiba tak ingat waktu
mengintai bersembunyi dibalik selimut waktu

entah pada putaran mana
dia akan berhenti
entah di hari apa jam berapa dan dimenit mana
dia akan menyerang 

ini sudah kesekian kali
tubuh mungil itu berjuang
mendobrak jalan napas
yang hampir tertutup




Samarinda,    Desember 2018


#dilarang copas
#share boleh




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mukallaf

MENGAPA PUISI ISLAMI?